Posted on

Ada Piramida di Jawa Tengah!

190-sukuh-temple

Destinasi yang satu ini masih belum banyak yang tahu namun ternyata di kaki Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah, ada sebuah kompleks candi yang memiliki rupa seperti Piramida di Amerika Tengah.

190-sukuh-temple

Perjalanan saya menuju Candi Sukuh ini ditemani oleh seorang blogger yang tinggal di kota Solo. Kami mengendarai motor dari kota Solo menuju situs bersejarah ini. Meskipun cukup jauh namun tak mematahkan semangat kami untuk mengenal lebih jauh situs bersejarah yang satu ini.

Lokasinya cukup berada di ketinggian. Jika kamu ingin ke sini pastikan punya kendaraan yang prima karena tanjakan yang sangat ekstrem.

Selain lokasinya yang sangat menarik, bentuk candi ini sangatlah mirip piramida Suku Maya di Meksiko. Dan jika kamu mengamati detil yang ada di sini, ternyata candi ini cukup vulgar loh! Candi Sukuh dibangun pada abad ke-15. Mengenai bentuknya, candi sukuh meninggalkan misteri yang masih jadi pertanyaan para sejarawan.

Apa kamu pernah ke sini?

Posted on

Menangkap Mistisnya Toba dalam Kartu Pos

154-sunrise-toba

Saya hanya memiliki waktu 4 hari di Sumatera Utara dan pastinya Danau Toba adalah destinasi wajib yang mesti didatangi. Entah kenapa danau yang satu ini memanggil saya. Melewati perjalanan darat selama 5 jam dan menyeberangi danau dengan kapal boat menuju Pulau Samosir ternyata telah membuka jalan saya menuju destinasi magis dan sangat memukau.

156-traditional-house
Rumah adat suku Batak di Pulau Samosir

Bicara soal Sumatera, rasanya tak sah jika kami tidak merilis kartu pos dari Danau Toba. Tempat yang satu ini memang sangat berkesan dan layak untuk dibagikan ke dunia lewat kartu pos. Lewat perjalanan selama hanya 2 hari di Pulau Samosir, saya berhasil menangkap magis dan mistisnya situs yang satu ini. Mulai dari rumah adat, peninggalan sejarah, dan juga keindahan alamnya. Warga di Pulau Samosir juga sangat bersahabat dan hangat.

152-stone-myth-toba
Situs bersejarah di Pulau Samosir

Kira-kira destinasi apa lagi yang mesti kami potret di Sumatera?

Posted on

Bangun Pagi demi Sebuah Foto

180-borobudur-temple-buddha

Kecantikan sebuah foto adalah pengorbanan. Menjadi seorang fotografer tak hanya bermodalkan kamera namun juga niat dan keberuntungan. Setidaknya itulah yang saya pahami ketika beberapa tahun terakhir mencoba mengabadikan kecantikan Indonesia.

181-borobudur-temple-1
Kecantikan Borobudur di waktu fajar

Untuk mendapatkan mistisnya Borobudur dengan warna keemasan, saya mesti berangkat dari Jogja menuju candi Buddha terbesar se-dunia ini pada pukul 4 pagi. Untungnya, cuaca mengizinkan dan saya bisa mengabadikan keindahan Candi Borobudur.

Situs World Heritage Site ini memang layak untuk dikagumi dan dipamerkan ke seluruh dunia. Meskipun pastinya sudah banyak toko yang menjual pemandangan Borobudur namun kami memutuskan untuk merilis kartu pos ini karena bagi kami foto Borobudur yang ada di PATW ini sangatlah personal dan dekat, hangat, serta indah. Yup.. seperti Indonesia.

Posted on

Kartu Pos dari Maluku Utara

117

Pada tahun 2012 saya berkesempatan untuk bergabung dalam acara Festival Teluk Jailolo. Sebuah perayaan akbar yang dilakukan tahunan di Jailolo, Halmahera Barat. Tentunya, festival itu sendiri merupakan keseruan tersendiri namun kedatangan saya ke sana membuka perjalanan menuju Maluku Utara.

Ini adalah cerita di balik kartu pos yang saya ambil di Maluku Utara. Mulai dari senja di Pulau Hiri hingga mendatangi Pelabuhan Rum di Tidore.

120
Pelabuhan Rum di Tidore

Kita mesti berbangga punya Maluku Utara karena sejarah perjalanan rempah bangsa Eropa dimulai dari tersohornya pala dan cengkeh di kepulauan ini. Tidore dan Ternate memang sudah lekat di kepala kita sejak kita belajar sejarah di Sekolah Dasar dulu, namun seberapa kenal kah kita dengan pulau penyimpan harta karun ini?

Pala dan Cengkeh diburu di sini. Perjalanan di Halmahera, Ternate, dan Tidore telah membuka pintu pengetahuan kepada saya dalam hal belajar tentang sejarah kekayaan alam Indonesia. Saya berkunjung ke perkebunan cengkeh dan juga pala. Selain itu, saya juga bisa mengambil gambar kecantikan alam Negri Rempah ini.

Keindahan alam Negri Rempah bisa kamu kagumi sendiri lewat kartu pos yang ada di PATW berikut ini:

114
Menikmati birunya laut di Jailolo
115
Mengunjungi Danau Tolire yang menyimpan legenda

 

 

Posted on

Cerita di Balik Kartu Pos: Road Trip Nusa Tenggara

10

Hai postcrosser! Akhirnya PATW bisa launching website baru lagi nih setelah beberapa bulan websitenya hibernasi dan lebih ngandelin order via LINE@. Terima kasih buat kamu yang masih terus pesan kartu pos di PATW. Di website baru ini, saya dan Nobi ingin coba terus membagikan inspirasi dan cerita-cerita tentang kartu pos kami atau bisa juga curhat colongan hehe

Baru kepikiran, kayaknya seru juga ya kalau bisa membahas cerita di balik kartu pos-kartu pos yang kami jual di sini. Jadi kamu juga bisa dapetin cerita di baliknya atau mungkin lebih mengenal daerahnya. Oke, untuk memulai, saya, Febry Fawzi, akan memulai ceritanya dari salah satu koleksi awal kartu pos PATW, yaitu Nusa Tenggara.

Kartu pos-kartu pos yang memamerkan kecantikan Nusa Tenggara ini saya ambil ketika solo trip pertama pada tahun 2011. Rutenya adalah Bali – Lombok – Pulau Komodo (via Sumbawa). Ceritanya ini merupakan pre-graduation trip gitu. Jadi abis sidang dan dinyatakan lulus, saya berinisiatif untuk melakukan perjalanan di Nusantara dengan goal yaitu mengunjungi salah satu The New 7 Wonder of The World (Nature) terbaru, Komodo Islands.

Saya terbang ke Bali hanya dengan tiket Rp 260.000 pulang-pergi. Kemudian menaiki travel ke Pelabuhan Padang Bai, menyeberang ke Pelabuhan Lembar dan kemudian terdampar di pulau-pulau cantik yang biasa disebut Gilis.

66

Dari ketiga Gili, saya hanya mengunjungi Gili Trawangan dan Gili Meno. Saya cukup kaget ketika tiba di Gili Trawangan soalnya rame dan banyak banget orang asingnya. Menginap beberapa malam di sana, saya juga menyempatkan diri day trip ke Gili Meno. Begitu menginjakkan kaki di Gili Meno, saya langsung jatuh cinta dengan pemandangannya. Benar-benar jauh lebih sepi dan asik untuk menyendiri. Gak hanya pantai, ada danau air asin di tengah-tengah pulaunya. Dulu sih masih seperti rawa yang tak terurus tapi sekarang kalau tidak salah sudah difasilitasi dan jauh lebih rapih. Gak lupa juga mampir ke Bird Park mini di salah satu penginapan di sana. Saya tahu tempat ini dari tempat menginap yang saya tempati. Bapak pemilik guesthouse-nya menyarankan saya ke Gili Meno Bird Park itu karena katanya ada komodo dan kanguru. Tapi pas datang, hanya ada burung warna-warni yang cantik. Kata bapak penjaganya, komodo dan kangurunya sudah mati sejak lama. Kasian..

9

2

Ternyata petualangan baru dimulai ketika saya menaiki bus Lombok – Bima. Bermodalkan tiket Rp 170.000, saya nekat untuk menyeberang ke pulau selanjutnya yaitu Sumbawa. Perjalanan semalaman ini benar-benar membuka horizon baru bagi saya. Ada banyak yang saya lihat dan keberagaman pemandangan alam yang dimiliki oleh Indonesia. Begitu menyeberang ke Sumbawa, saya langsung disambut pemandangan matahari terbenam di Pelabuhan Poto Tano. Dengan lansekap perbukitan gundul dan savana. Di belakang, Gunung Rinjani memanggil-manggil dengan gagahnya.

Bus terus melaju melewati jalanan asing menuju tanah baru untuk saya jelajahi. Membawa saya tiba di Terminal Bus Bima sebelum waktu subuh. Berganti bus yang lebih kecil untuk kembali berangkat menuju Sape setelah waktu subuh.

Pemandangan semakin mistis dengan kabut-kabut tipis yang menyelimuti jalanan berliku, melintasi perbukitan curam. Sampai sekarang, saya merasa perjalanan dari Bima ke Sape ini seperti mimpi saja.

1

Tiba di Pelabuhan Sape, saya membeli tiket untuk menyeberang ke Labuhan Bajo, Flores. Perjalanan 8 jam dengan ferry ini rasanya akan menjadi salah satu hal yang berat. Saya gak bisa berenang dan itu cukup menjadi hal yang menakutkan kalau-kalau terjadi sesuatu. Tapi rasanya saya gak bisa balik. Perjalanan terus berlanjut.

Lewat dari jam 9 pagi, kapal mulai berlabuh meninggalkan tanah Sumbawa. Saya sangat senang, bersemangat, namun takut juga dan kangen rumah.

Ada saatnya saya sangat bersemangat untuk melihat pemandangan, ada kalanya saya mati kutu kebosanan. 8 jam bukan waktu yang sebentar dan sangat menguji kesabaran. Situasi ferry tidak terlalu buruk namun juga tidak cukup nyaman. Namun alam Indonesia yang cantik memberikan jawaban. Cukup memandangi lautan biru dan pulau-pulau kecil di ujung sana rasanya cukup memberi hiburan tersendiri.

Sebelum saya bisa menginjakkan kaki di Pulau Komodo, ferry kami sempat melewatinya. Rasanya saya ingin diturunkan di sini saja. Jadi gak perlu bolak-balik dari Labuan Bajo. Ternyata dulu itu bisa minta diturunkan di tengah-tengah laut dekat Kepulauan Komodo dan pastinya akan dijemput oleh kapal yang lebih kecil. Tetapi sewaktu saya ke sana, kataya sudah tidak bisa. Ya kepikiran juga sih gimana turunnya dari kapal ferry yang gede begitu.

Berhubung masih berstatus mahasiswa dengan uang yang pas-pasan. Saya bisa menemukan penginapan di Labuan Bajo dengan tarif Rp 30.000 per malam! Bisa bayangin kayak apa? Saya sih gak mau balik lagi haha

5

Di penginapan saya bertemu seorang anak SMA yang baru lulus dari Jakarta lagi traveling juga. Ternyata dia lebih berani dari saya. Kami berencana untuk ke Pulau Komodo bersama, dengan jalur termurah yaitu menaiki kapal sayur warga Kampung Komodo.

Di detik itu juga saya baru tahu bahwa di Pulau Komodo itu ada perkampungan dengan ratusan kepala keluarga. Cukup takjub mereka bisa hidup berdampingan dengan Komodo. Saya aja sampai gak bisa tidur berhari-hari karena takut dengan Komodo tapi ingin banget bisa berkunjung ke sana.

Sempat menunggu 5 jam di perahu warga komodo yang mengantarkan warganya untuk berbelanja di Labuan Bajo, sempat putus asa juga dan luntang-lantung di pelabuhan. Akhirnya kami berangkat dengan kapal otok-otok yang suaranya sekeras helikopter. Aman kah? Ya jangan tanya! Saya sendiri sudah lirik sana sini mau lihat apakah ada barang yang bisa dijadikan pelampung kalau-kalau si perahu kenapa-kenapa. Setelah bertahun-tahun jalan sendirian, perjalanan perahu ke Pulau Komodo adalah salah satu pengalaman ‘near death’ dan paling menyeramkan.

64
Ini bukan kapal yang saya naiki

Karena kami jalan kesiangan, kami harus bertemu pertemuan arus yang ombaknya aja bisa lebih tinggi dari kapal sendiri. Saya udah berhenti mikir dan hanya bisa ketawa-ketawa karena ngeri. Saya salut kapal reot begitu bisa bertahan di tengah laut ganas.

Pemberhentian pertama kapal ini adalah Kampung Komodo. Kami tiba di Pulau Komodo sudah gelap dan kami meminta kapten kapalnya untuk mengantarkan kami ke Loh Liang, tempat di mana pintu masuk ke Taman Nasional Komodo berada. Kami berniat untuk menginap di tempat rager-nya.

Bisa bayangkan kami jalan di Pulau Komodo, sudah gelap, tanpa lampu penerang. Saya takut banget kalau lagi melangkah terus diselengkat sama komodo! Bahkan kondektur kapal yang kami paksa mengantarkan kami pun ketakutan. Mereka itu penduduk asli Kampung Komodo!

Sempat diomeli oleh pengurus Taman Nasional karena kami gak punya alasan kuat untuk menginap di sana. Tapi dengan alasan sebagai pelajar yang sedang ingin study wisata, akhirnya kami diberikan kamar untuk menginap dan makan malam.

Di sini rumahnya, rumah panggung. Mungkin untuk menghindari komodo masuk ke dalam rumah dan memang komodo ada banyak di kolong pondokan di sini. Tempo hari, ada seorang penjaga yang salah injak tangga terus langsung diserang komodo. Gimana saya gak horor dengar cerita begituan?

Saya tidur malam-malam penuh ketakutan. Bagaimana jika komodo ada di lantai ketika saya bangun. Sampai sekarang saya gak habis pikir kenapa saya bisa ada di sana. hahaha

Turis-turis lain itu menginap di kapal dan juga dimasaki. Penuh kemewahan lah pokoknya. Tapi saya juga merasa bersyukur bisa melakukan perjalanan semacam itu. Kapan lagi? Dan.. gak semua orang bisa mendapatkan pengalaman seperti ini bukan?

11